Langsung ke konten utama

Millennials: Pedagang Makanan Keliling atau Layanan Pesan Antar Makanan?

Teknologi kini semakin berkembang, banyak terobosan-terobosan baru yang diciptakan demi menunjang kehidupan sosial yang semakin dinamis dan menuntut kepraktisan. Salah satunya adalah menjamurnya layanan berbasis aplikasi online. Mulai dari ojek sampai layanan pesan antar makanan. Bicara mengenai hal ini, kaum millennials tentu menjadi mayoritas konsumen pengguna layanan pesan antar makanan karena millennials-lah yang lebih dekat dengan kecanggihan teknologi dan kemajuan internet. “Yang paling banyak pesan makanan memang kebanyakan anak sekolahan, yang remaja-remaja. Saya sering dapat orderan ke sekolah. Tapi mbak-mbak mas-mas yang di rumah, kantor juga banyak.” ujar Yuni, salah seorang pengemudi ojek online. 

Kaum millennials tentu mendambakan kepraktisan. Banyak dari mereka yang memilih layanan pesan antar makanan karena mager “malas gerak”. Bagaimana tidak, mereka hanya tinggal menunggu di rumah dan pesanan mereka akan datang dengan waktu yang relatif cepat. Tidak hanya itu potongan harga, paket hemat, hingga gratis ongkir turut menambah faktor millennials lebih memilih layanan pesan antar makanan ketimbang keluar rumah. Mengenai makanan yang dipesan, berbagai macam makanan maupun minuman yang sudah tersedia outletnya di tempat-tempat tertentu dan terdaftar di aplikasi layanan pesan antar menjadi pilihan. 

Lalu bagaimana nasib pedagang makanan yang hanya bermodalkan keliling di era kecanggihan teknologi saat ini? Dapat diperkirakan omset mereka turun seiring banyaknya layanan pesan antar makanan yang lebih praktis. Salah seorang pedagang pentol keliling, Ahmad, mengutarakan, “Yang beli memang ga seramai dulu. Paling banyak kalau saya mangkal di depan sekolah, banyak anak-anak sekolahan yang beli. Tapi kalau pas lagi keliling gitu suka sepi, yang beli gak sebanyak dulu.”

Meskipun dalam membeli makanan di pedagang keliling juga tidak terlalu memperlukan tenaga lebih, anak muda zaman sekarang tetap lebih memilih layanan pesan antar, karena kepastian dan efektivitas waktu. “Waktu itu pernah pengen banget makan bakso. Niatnya mau nungguin tukang bakso lewat aja, tapi udah ditungguin lama banget gak lewat-lewat. Akhirnya aku pesan online.” ujar Rinda. 

Jelas sudah mana yang lebih dipilih kaum millennials dalam membeli makanan. Pada akhirnya tidak ada yang bisa membendung derasnya kemajuan arus teknologi. Bila tidak mampu beradaptasi maka siap-siap tergerus oleh jaman yang semakin canggih.—(Diah Ayu Wulandari/19041184064)

Komentar