Langsung ke konten utama

Petani Indonesia di era 4,0 akankah sejahtera atau malah sengsara?

                            Akhir-akhir ini isu revolusi industri 4,0 sedang gembor-gemborny dibicarakan di khalayak umum.Isu yang dibicarakan pun beragam.mulai dari eoomi sampai selera makan nasi.Dan yang tenunya menjadi poin khusu adaah bahwa semua isu tersebut haruslah berbasis teknologi.semakin maju sebuah tingkat pengetahuan teknologi di suatu negara semakin tinggi pula peradabannya.demikianlah yang biasa orang-orang kita katakan.Jikalau seperti itu,apakah negeri kita ini sudah menjadi negara yang mengiuti arus revolusi industr ini?
                       Jawaban dari pertanyaan tersebut tentu saja sangat ambigu.mengapa? karena Indonesia tidak sepenuhnya mengiuti arus tersebut namun juga tidak berdiam diri pada satu titik jenuh.Hal ini bisa dibuktikan dengan beberapa pengakuan dari petani-petani di Desa Banjar medalan-lamongan pada hari sabtu,21 september 2019.
                     Paparan pendapat dari H.Taslim(60) seorang petani di Desa Banjar medalan-lamongan  mengatakan bahwa penggunaaan teknologi dalam pertanian khususnya teknologi pangan sangatlah menguntungkan.Penggantian tenaga manusia yang memiliki batasan kekuatan dengan teknologi atau mesin yang tanpa ttitik elah sangatlah membantu dalam hak meningkatkan produktivitas pertanian.enambah daya efisiensi dan tentunya menghemat biaya perawatan.seperti traktor contohnya.alat ini tentunya akan sangat membantu petani dalam membajak sawah sehingga para petani mulai beralih dari cara konvensional atau menggunakan tenaga kerbau dengan traktor yng lebih efisien dan mudah dioperasikan."Saya sudah menggunakan mesin ini(traktor) lebih dari 20 tahun,bermula dari teman saya,dan selanjutnya saya gunakan.tak lama setelahnya,sudah hampir seluruh petani di desa ini menggunakan traktor seperti saya."
                  Hal ini sesuai dengan paradigma bisnis Zaman ekarang yang telah bergeser,dari yang dulunya memerioritaskan pada keuntungan pribadi dan kepemilikan tertinggi,sekarang begeser menjadi keuntungan bersama dengan pembagian keuntungan sesuai tugas dengan mitra usaha.Yang mana kepemilikan bukanlah lagi hal yang diprioritskan,tetapi kemitraan dan target bersama secara sinergisitas dan keuntungan bersama lebih ditekankan.        
                 Namun,dari beberapa benefit dari revolusi industri tersebut,juga terdapat beberapa titik kelemahan sebagai dampak dari teori ini.salah satunya adalah kecenderungan manusia brgantung pada teknologi sehingga mempersulit atau bahkan mngurangi nilai kegunaan dari manusia itu sendiri.Seperti yang disampaikan selanjutnya oleh Taslim."ada beberapa efek dari penggunaan teknolog ini,salah satuya adalah munculnya teknologi baru asal pakai yang sebenarnya justru malah mengurangi hasil produksi.contohnya mesin kombi.kebanyakan warga sini sudah terlena dengan kemajuan teknologi sehingga asal comot saja teknologi yang sudah tersedia.meskipun tidak menimbulkan dampak negatif,tapi mesin ini sebenarnya malah sering menghancurkan padi yang akan dibersihkan menjadi beras sehingga menyebabkan banyak kehancuran pada biji beras.Hal ini tentu saja akan menurunkan kualitas beras dan malah akan mengurangi hasil prouksi."
                 Dengan pernyataan kedua telah menjelaskn keadaan warga desa disekiatr tempat tinggal Taslim yang sebenarnya memang sudah menerapkan penggunaan teknologi pangan.Ttapi hal itu tidak dibarengi dengan pengetahuan luas karena sikap terlalu terbuka terhadap teknologi yang hasilnya justru malah membawa kerugian bagi mereka.
                Selain itu,mash tingginya kuota impor bahan pangan Indonesia dari negara lain menujukkan bahwa hasil pangan di  Negara Indonesia  masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya sendiri meskipun telah diabrengi dengan berbagi macam teknologi dan subsisdi dari pemerintah.di Negara konsumtif ini,harusnya para petani sebagi produsen bahan pangan adalah pemegang strata trtinggi dalam bisnis.Namun,seperti realita zaman sekarang,para petni justru semakin menderita dan semakin jauh dari kata sejahtera.Sejatinya,Aada atau tidaknya revolusi Industri dalam badan transaksional Indonesia tetapla tidak mengubah nasib masyarakat kelas bawah yang hanya bisa bertahan hidup dengan warisan sawah ladang bekas milik orang tua.hal ini menandakan bahwa persebaran teknologi itu tidak merata dan pengetahuan masyarakat pun kurang.
                Jadi,dari keadaan sosial dan tingkat pengetahuan masyarakat Indonesia ini, sudah siapkah Indonesia mengikuti arus revolusi industri 4,0? 
               




Komentar