Langsung ke konten utama

KAMPUNG HERBAL NGINDEN: KAMPUNG TANAMAN-KAMPUNG IDAMAN




SURABAYA -- Pada Sabtu, 21 September 2019, saya bersama satu orang teman pergi mengunjungi salah satu kampung yang terkenal dengan prestasi dan keelokannya di surabaya. Kampung Herbal di daerah Nginden gang VI I ini sudah banyak mengikuti sekaligus memenangkan lomba. Mulai dari tahun 2014, terdapat lomba utusan bu lurah, bak sampah, lampu, dll. Di tahun 2015 dilanjutkan dengan program 'Merdeka dari Sampah' yang alhamdulillah dimenangkan dan mendapatkan hadiah 3,5 juta rupiah. Dilanjut dengan program 'Surabaya Green City (SGC)' dengan total hadiah 1,25 juta rupiah. Tak hanya itu, lomba dari Bedjoe–Bintang Toedjoeh (jahe merah(Obat masuk angin, panas dalam, dan sakit kepala)) yang juga diberi bingkisan berupa produk-produk jahe merah itu sendiri. Selain kampungnya yang menawan nan rupawan, masyarakatnya pun tak mau kalah yakni dengan mengikuti program jalan-jalan di sepanjang jalan sedap malam-ambengan-suprapto-kotamadya-sedap malem yang berhasil membuat bangga kampung ini kembali dengan menyabet juara 2 dan dihadiahi uang sebesar 12,5 juta rupiah. Adapun pelatihan dengan hadiah 1,25 juta rupiah yang pernah mereka raih. Sungguh sangat mengagumkan, bukan? Tapi nih, uang sejuta untuk mengembangkan kampung mereka yang sangat tidak 'kampungan' ini masih kurang loh, ternyata. Apalagi jika dipergunakan untuk biaya lomba-lomba seperti itu. Seringnya, uang yang dikeluarkan pun tak lain tak bukan dari iuran para warga ini sendiri. Semoga saja, pemerintah kota cepat tanggap ya mengembangkan kampung-kampung berpotensi seperti ini di Surabaya.
     Kalo ngomongin prestasi, memang nggak ada habisnya sih ya. Kuy lanjut ke awal berdirinya Kampung Herbal yang dikelola pertama kali oleh seorang bapak hebat, Pak Saringat, bersama beberapa temannya tentu saja. Keloyalan dari beliau yang ketika itu tampak di depan mata saya saat berkunjung disana membuat saya semakin kagum dengan beliau. Bagaimana tidak? Dirinya yang sudah berumur itu masih saja bekerja keras untuk mengembangkan dan melebih-baikkan kampungnya tersebut. Saat akan kami wawancarai pun beliau terlihat sangat terbuka dan antusias terhadap pertanyaan-pertanyaan yang kami lontarkan. Pak Saringat, Ketua RT Nginden VI I Surabaya ini awalnya mengubah rawa-arwa yang penuh tanaman pisang dibuat seindah kampung warna-warni kebanyakan yang penuh dengan warna-warni mulai dari cat rumah warga, dekorasi gapura, serta pernak-pernik dari barang-barang bekas yang menghiasi kamung tersebut. Akan lebih indah lagi bila malam dikarenakan terdapat lampu warna-warni yang pastinya akan memanjakan mata orang-orang yang melihat. Pak Saringat bersama warga pun secara gotong-royong mendirikan Kampung Herbal yang tidak hanya sekadar kampung, tetapi terdapat juga beberapa fasilitas menarik seperti Pusaka Budaya yang biasa digunakan untuk mengembangkan budaya pula. Seperti kleningnan, jaranan, angklung, campursari, dsb. Kurang wow apa coba? Hehe. Oh iya! Ada lagi nih fasilitas tambahan yang nggak semua kampung punya. Yaitu Taman Bacaan Masyarakat atau biasa disebut Perpustakaan ini konon katanyaaa difasilitasi oleh PemKot setempat yang bukunya sendiri bukan hanya untuk anak-anak, tapi juga bisa untuk remaja, orang dewasa, dan lansia. Banyak tanaman, sudah pasti butuh rumah kan? Nah, disini juga ada tuh rumah hijau atau yang biasa disebut Green House yang di dekatnya telah tersedia pula pendopo untuk bersantai ria. Pengairan pun sudah mengembangkan teknologi IPAL yang airnya bersumber dari sungai terdekat. Jadi hemat pengeluaran deh! Wahhh, lengkap banget ya")

     "Pengarahan dari puskesmas pada salah satu warga yang dijadikan 'dokternya' kampung tersebut membuat masyarakat lebih dapat memanfaatkan herbal-herbal yang ada untuk dijadikan obat. Untuk dasar-dasarnya sendiri, kami pun sudah tahu beberapa jenis obat seperti contohnya terdapat daun petik an yang dioleskan di sekitar mata (seperti celak) untuk menyembuhkan sakit mata. Selain itu, hasil kebun seperti jahe bisa dijual ke Pasar Bratang. Dengan adanya kampung ini, tentunya sangat bermanfaat untuk masyarakat setempat termasuk ke bidang ekonomi sehingga dapat menghemat budget pengeluaran sehari-hari. Untuk bibit maupun bahan tanaman sendiri pun warga sering bertukar-tukar sesuai kebutuhan. Saya sendiri punya tanaman toga, markisa, suruh merah, aloe vera, dan masih banyak lagi." ucap Mbak Tina, salah seorang alumni UNESA jurusan Matematika yang saat ini tengah berjualan jamu di Kampung Herbal tersebut.
AZIZAH DWIPUTRI HARYDAR
19041184051 

Komentar