Langsung ke konten utama

Indahnya Toleransi di Pulau Dewata

Instagram/@wayancuer


MOJOKERTO -- Di negara kita tercinta ini, Indonesia, kaya akan keberagaman didalam masyarakatnya. Mulai dari suku, ras, agama, kebudayaan atau adat istiadat, dan banyak lagi keberagaman lainnya. Kita ambil contoh seperti di Pulau Dewata, Bali, disana tidak hanya ada penduduk yang memeluk agama Hindu, tetapi ada juga penduduk yang non-hindu seperti Islam, Kristen dan beberapa agama lain. Meskipun banyak terdapat perbedaan keyakinan, tetapi penduduknya sangat menerapkan sikap toleransi dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dan di Bali hampir tidak pernah terdengar berita tentang bentrok atau perselisihan antar pemeluk agama, mereka benar-benar saling menghormati satu sama lain tanpa memandang latar belakang.

Para penduduk yang beragama non-hindu, akan ikut menjaga ketentraman, ketenangan serta kedamaian ketika para penduduk yang beragama hindu memperingati Hari Raya Nyepi. Seperti menjadi Pecalang (polisi adat) dan bagi penduduk yang muslim akan mengumandangkan adzan tanpa menggunakan alat pengeras suara.

Umat hindu yang umumnya menganggap sapi sebagai hewan yang suci, tapi hal tersebut tidak berlaku bagi para pemeluk agama hindu di Bali karena disana juga ada umat muslim yang pada saat Hari Raya Idul Adha pasti menyembelih atau kurban sapi, hal tersebut sudah dianggap sebagai hal yang lazim dan tidak dipermasalahkan oleh para penduduk penganut kepercayaan hindu di Bali dan bahkan ada umat hindu atau agama lain yang menjadi panitia acara kurban. Dan pada saat umat muslim menunaikan ibadah sholat, baik sholat wajib, sholat Jum’at dan sholat Ied, para penduduk non-muslim akan menjadi Pecalang dan memantau keamanan disekitar masjid agar tercipta suasana yang kondusif dan tenang. Seusai menunaikan sholat, para pengurus ataupun jama’ah masjid akan menemui para Pecalang tadi untuk berterimakasih dan berbincang-bincang santai sebelum kembali kerumah masing-masing.

Semua penduduk di Bali sangat mempertahankan sikap toleransi mereka terhadap sesama manusia, tanpa memandang ras, suku, agama ataupun latar belakang mereka. Mereka saling menghargai dan menghormati dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tidak merendahkan dan mengunggulkan apa yang dimilik atau sesuatu yang dianut.

Jika di Bali saja bisa seperti itu, menerapkan sikap toleransi yang tinggi terhadap sesama manusia, kenapa di daerah lain tidak? Pasti bisa dong.. karena dari awal berdirinya, Indonesia sudah terdiri dari berbagai suku, adat, budaya, dan agama. Jadi jangan sampai ada individu atau kelompok masyarakat yang masih beranggapan bahwa hanya agamanya-lah atau budayanya-lah yang paling benar dan harus ditegakkan di Indonesia. Mari kita jaga semboyan Bhineka Tunggal Ika di Indonesia ini bersama-sama, yang diwarisankan para pendahulu kita. Jangan sampai terjadi perpecahan yang disebabkan hanya karena perbedaan suku, agama, ras dan latar belakang setiap individu. Kita semua sama, kita semua satu saudara, yang harus saling bertoleransi, saling menghargai dan menghormati satu sama lain.
( Rama Febryanta Arjana-19041184054)

Komentar