LAMONGAN - Berasal dari keyakinan tiga agama yang berbeda, yakni Islam, Kristen, dan Hindu. Masyarakat di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan terletak kurang lebih 1 kilometer dari Jalan Raya Babat - Surabaya tepatnya pada pertigaan sebelum RS Muhammadiyah Lamongan belok ke utara sangat erat toleransinya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, tempat ibadah mereka yakni Masjid Miftakhul Huda, Gereja Kristen Jawi (GKJ), dan sebuah Pura umat hindu nampak berdekatan satu sama lain.
Meskipun mayoritas beragama Islam, namun mereka tak semena-mena memenangkan diri dalam beribadah, lho. Contohnya saja, saat sholat, umat Islam rela tidak menyalakan qori' sebelum adzan. Saat jumatan pun, tidak menggunakan speaker saat khutbah dikumangkan. Kecuali adzan loh ya, maklum sebagai pengingat sekaligus pemanggil waktu beribadah. Lampu dekat pura pun biasanya dimatikan agar tidak mengganggu ketentraman umat Hindu.
Kalau perayaan hari Idul Fitri, pemeluk agama selain Islam boleh bersilaturahmi ke pemeluk agama Islam untuk mengucapkan Idul Fitri dan ber-halal bi halal. Begitu pun saat kaum Kristiani merayakan hari raya Natal, bila ada umat Islam atau Hindu yang mengucapkan juga tak masalah, tapi tidak juga tak membuat umat Kristiani tersinggung.
Saat perayaan Hari Raya Nyepi umat Hindu, semua masyarakat pun turut mengedepankan toleransinya dengan tak sembarangan keluar rumah jika tak penting.
Bahkan karena toleransinya, umat Kristiani rela mengundurkan misa ibadah, bilamana umat Islam atau umat Hindu di saat bersamaan sedang menjalani proses ibadah penting mereka.

"Dulu pernah waktu Natal bersamaan dengan Idul Fitri atau Idul Adha kalau tidak salah. Nah karena umat Islam ibadahnya ditentukan waktu, jadi kami umat Kristen bisa menyesuaikan. Kita undur misa setelah umat Islam selesai salat Id," tutur Sutrisno.
Menurut Sutrisno, umat Kristiani tak mempermasalahkan hal tersebut. Bahkan tak jarang di ibadah petang, bila bersamaan dengan jadwal sholat Maghrib maka ibadah diundur setelah salat Maghrib selesai jam 18.30 WIB.
"Begitupun kalau Muslim kalau kita sedang ada ibadah bersamaan dengan salah satu waktu salat lima waktu misalkan. Ya mereka tidak pakai qori' dan langsung adzan menggunakan pengeras suara," ungkap Sutrisno.
Nah, dengan belajar indahnya toleransi atas keberagaman yang telah disampaikan, desa ini pun telah mendapat gelar 'Desa Pancasila'. Sungguh sebuah karunia Tuhan yang patut disyukuri hingga saat ini. Ingat ini, ingat Bhinneka Tunggal Ika "Berbeda-beda tapi tetap satu jua". Semoga istiqomah, ya..
Azizah Dwiputri Harydar
19041184051
Komentar
Posting Komentar